Meminjam bahasa Jalaluddin Rakhmat, manusia adalah “anak-anak Tuhan” yang dikeluarkan dari rumah-Nya untuk bermain-main di halaman dunia ini -Sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan hiburan- (QS. Al-An’am: 32). Pada bulan Ramadhan inilah, anak-anak Tuhan diminta kembali dan meninggalkan halaman permainan. ] Dalam Kitab Minhaj Al-Balaghah diriwayatkan, menjelang Ramadhan Rasulullah saww menyampaikan sebuah khutbah, “Wahai manusia, sudah datang kepada kalian bulan Tuhan yang membawa berkat, rahmat, dan ampunan; bulan yang paling utama di sisi Tuhan dari bulan mana pun. Paling utama hari-harinya, malam-malamnya, bahkan jam demi jamnya. Inilah bulan ketika kalian diundang untuk menjadi tamu-tamu Tuhan. Di bulan ini, kalian dijadikan orang-orang yang berhak memperoleh jamuan Tuhan. Di bulan ini, nafas kalian menjadi tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian diijabah. Mohonlah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, supaya Dia membimbing kamu untuk menjalankan puasanya dan membaca Kitab-Nya. Malanglah orang yang tidak mendapat ampunan Tuhan di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan lapar dan dahaga kamu di bulan ini lapar dan dahaga pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada fakir miskin. Muliakan para pemimpin kamu dan kasih-sayangi orang-orang kecil di antara kamu. Sambungkan persaudaraan kamu. Pelihara lidah kamu. Jagalah dirimu agar kamu tidak melihat apa yang tidak boleh kamu lihat dan tidak mendengar apa yang tidak boleh kamu dengar. Sayangilah anak-anak yatim orang lain supaya Tuhan menyayangi anak-anak yatim kamu.” Sebagaimana biasa, khutbah Rasulullah singkat namun menyentuh hati dan menggelorakan perasaan. Kata-kata yang dipilih sederhana, mudah dipahami namun bermuatan filosofis yang begitu mendalam. Insya Allah, izinkan saya menguraikan beberapa catatan apresiasi dalam penggalan khutbah Rasulullah saww tersebut yang sayangnya sering terabaikan oleh kebanyakan kita. Ramadhan, Bulan Tuhan Pada penggalan awal khutbah di atas, Rasulullah saww menyebut Ramadhan sebagai bulan Tuhan, sebagai bulan yang paling mulia di sisi Allah. Dalam terminologi Al-Qur’an, Tuhan ataupun Allah bukan sekedar wujud yang kepadanya kita sematkan asma-asma kemuliaan dan keagungan, bukan sekedar sesuatu yang kita tempatkan di altar persembahan, tempat segala ampunan dan pengharapan kita muarakan. Namun Allah juga adalah ‘kampung halaman’ kita. Tempat kita berasal dan akan kembali, “Hanya kepada Allah kamu semua kembali.” (QS. Al-Maidah: 48). Dalam bahasa Jalaluddin Rumi, penyair sufi asal Persia, Tuhan adalah “rumpun bambu” kita, sedangkan kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Suara yang keluar dari sebuah seruling sesungguhnya adalah jeritan kerinduan untuk bisa kembali kepada rumpun bambu, tempatnya berasal. Dengan beberapa ketentuan seorang Muslim ketika bepergian atau melakukan perjalanan jauh dari rumahnya boleh menyingkat shalat-shalatnya atau menggabungkannya. Tetapi jika disekitaran Kakbah, darimanapun para jamaah haji datang dan betapapun jauhnya perjalanan yang di tempuh, shalat mereka harus sempurna dan tidak boleh disingkatkan. Sebab perjalanan menuju Kakbah sesungguhnya adalah perjalanan kembali ke kampung halaman. Karena itulah Kakbah disebut juga Baitullah, Rumah Tuhan. Begitu juga dengan Ramadhan, disebut Bulan Tuhan, karena pada bulan ini kita semua, orang-orang yang beriman kepada-Nya, kembali kepada Tuhan. Meminjam bahasa Jalaluddin Rakhmat, manusia adalah “anak-anak Tuhan” yang dikeluarkan dari rumah-Nya untuk bermain-main di halaman dunia ini -Sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan hiburan- (QS. Al-An’am: 32). Pada bulan Ramadhan inilah, anak-anak Tuhan diminta kembali dan meninggalkan halaman permainan. Selama kita asyik bermain, kita sibuk membeli “jajanan” yang bermacam-macam: Kekayaan, kekuasaan dan kemasyhuran. Kita diingatkan bahwa ada makanan lain yang jauh lebih sehat dan lebih lezat. Pada bulan Ramadhan Tuhan mempersiapkan jamuan-Nya dan kita diundang untuk menjadi tamu-Nya. Rasulullah saww berkata,” Inilah bulan ketika kalian diundang untuk menjadi tamu-tamu Tuhan. Di bulan ini, kalian dijadikan orang-orang yang berhak memperoleh jamuan Tuhan. Di bulan ini, nafas kalian menjadi tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian diijabah. Bulan Solidaritas Ramadhan sering disebut juga bulan rahmat (kasih sayang), karena pada bulan ini kepekaan dan rasa kasih sayang kita digugah. Rasulullah saww menganjurkan kita meyayangi dan menyantuni anak-anak yatim, bersedekah kepada fakir miskin, memuliakan pemimpin dan mengasihi orang-orang kecil dan para pekerja yang berada di bawah tanggungan kita. Kita dihimbau untuk menjalin akrab relasi kemanusiaan. Pada bulan ini, anak-anak kembali kerumah orang-orang tua mereka menjalin kembali kasih sayang dan persaudaraan, anak-anak yatim disantuni dan mendapat perhatian berlebih, para atasan mempererat hubungan dengan para karyawannya, para pemimpin semakin mencintai rakyatnya dan orang-orang kaya memadu kasih dengan orang-orang miskin. Ditengah kegersangan relasi kemanusiaan dan solidaritas sosial, Tuhan mempersembahkan Ramadhan yang membawa rahmat bagi sebanyak-banyaknya orang. Ramadhan datang untuk memperpeka kembali kemanusiaan kita yang selama ini terkotori oleh kesadaran hidup yang bersifat ordiner, konsumtif dan profan semata. Dengan berpuasa, kita mampu memenangkan insan malakuti diatas sifat kebinatangan yang bersemayam dimasing-masing jiwa kita. Rasulullah saww menganjurkan agar di bulan ini kita melatih diri untuk mengubah pola relasi kebinatangan yang berdasarkan kebencian dan permusuhan dengan pola relasi yang lebih manusiawi, kontak sosial yang berdasarkan cinta, kasih sayang dan silaturahmi. Baik kepada rakyat kecil maupun para pembesar, Nabi berkata, “Bersedekahlah kepada fakir miskin. Muliakan para pemimpin kamu dan sayangi orang-orang kecil di antara kamu. Sambungkan persaudaraan kamu. Sayangilah anak-anak yatim orang lain supaya Tuhan menyayangi anak-anak yatim kamu.” Ketika Nabi Yusuf as menjadi menteri logistik, ia membiasakan puasa setiap hari. Orang bertanya kepadanya: Mengapa Anda membiasakan lapar sementara perbendaharaan bumi di tangan Anda? Yusuf menjawab: Aku takut kenyang dan mengabaikan mereka yang lapar.”